Citizen Jurnalis: Muhammad Azka Taufiqi, S.Pd.
Ada yang menarik ketika anak diminta memperdengarkan hafalan Al-Qur’an. Di rumah, bacaannya lancar. Sambungan ayatnya nyaris tanpa jeda. Namun, begitu duduk di hadapan penguji, mendadak lupa ayat berikutnya. Anak mulai berpikir keras, sementara orang tua yang menyaksikan ikut deg-degan. Dalam hati, mungkin malah ikut melafalkan sambungan ayatnya.
Yang diuji anaknya, tetapi yang ikut tegang bisa seisi ruangan.
Suasana semacam itulah yang membuat tasmi lebih dari sekadar kegiatan menyetorkan hafalan. Pada Sabtu, 10 dan 17 Oktober 2026, SD Islam Hidayatullah Semarang menyelenggarakan kegiatan tasmi dalam dua periode. Periode pertama terdiri atas tiga sesi, sedangkan periode kedua berlangsung dalam lima sesi. Melalui kegiatan ini, murid memperdengarkan hafalan Al-Qur’an di hadapan penguji dan orang tua.

Di hadapan ustazah, hafalan diuji. Di sisi lain, orang tua menyimak dengan harap dan doa. Bukan sekadar tentang seberapa lancar ayat dilantunkan, tetapi tentang keberanian anak, kesungguhan menjaga ayat-ayat Allah, dan perjuangan yang tak selalu terlihat. Sebab, setiap ayat yang terjaga adalah ikhtiar, dan setiap keberanian yang tumbuh adalah kebanggaan.
Menghafal Al-Qur’an memang bukan perkara mudah. Namun, menjaga hafalan agar tidak mudah terlupa juga membutuhkan kesungguhan. Ayat yang hari ini lancar bisa saja mulai terselip ketika jarang diulang. Karena itu, murajaah menjadi bagian penting dalam perjalanan menghafal Al-Qur’an. Hafalan tidak cukup hanya disetorkan, lalu dibiarkan begitu saja. Ia perlu terus dirawat.
Tasmi menjadi salah satu cara untuk memastikan hafalan tetap terjaga. Penguji menyimak kelancaran bacaan, ketepatan ayat, hingga penerapan tajwid. Jika ada kesalahan, murid mendapat kesempatan untuk memperbaikinya. Jadi, bukan sekadar mengejar banyaknya hafalan, tetapi juga memastikan ayat-ayat yang dihafal dibaca dengan baik dan benar.
Namun, ada hal lain yang tak kalah penting: keberanian.
Tidak semua anak langsung tenang ketika harus membaca di hadapan banyak orang. Ada yang lancar sejak awal, ada pula yang sempat gugup atau terhenti di tengah bacaan. Dari situ, anak belajar mengendalikan rasa gugup, menjaga konsentrasi, dan menerima koreksi. Sebab, keberanian bukan berarti selalu tampil sempurna, melainkan tetap mau mencoba meskipun ada rasa takut melakukan kesalahan.
Bagi orang tua, tasmi juga menjadi kesempatan untuk melihat usaha anak yang mungkin tidak selalu tampak di rumah. Di balik hafalan yang terdengar lancar, ada ayat yang diulang berkali-kali dan rasa bosan yang harus dilawan. Karena itu, ketika anak belum tampil sempurna, bukan berarti usahanya sia-sia. Keberaniannya untuk mencoba dan kemauannya memperbaiki diri juga layak diapresiasi.
Tasmi sekaligus menjadi salah satu bentuk persiapan murid menghadapi munaqosyah. Mereka belajar membiasakan diri dengan suasana pengujian, mengenali kekurangan, dan memperkuat hafalan sebelum menghadapi tahap berikutnya.
Lebih dari itu, kegiatan tasmi merupakan salah satu ikhtiar SD Islam Hidayatullah Semarang dalam mewujudkan quality assurance sekolah, yaitu cinta Al-Qur’an. Harapannya, seluruh murid tidak hanya mampu menghafal dan memperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga menjaga bacaannya serta istiqamah membaca Al-Qur’an setiap hari.
Sebab, kecintaan terhadap Al-Qur’an tidak cukup dibuktikan dengan lancarnya bacaan saat diuji atau banyaknya hafalan yang berhasil dikumpulkan. Kecintaan itu juga tumbuh melalui kebiasaan sederhana: membuka mushaf, membaca ayat demi ayat, dan mengulang hafalan meskipun tidak sedang ada penilaian.
Pada akhirnya, tasmi memang menguji hafalan, tetapi juga melatih keberanian dan menumbuhkan tanggung jawab untuk menjaga apa yang telah dipelajari. Maka, setelah anak menyelesaikan tasmi, kita boleh bangga dan bersyukur. Namun, jangan berhenti pada tepuk tangan dan ucapan selamat.
Sebab, keberhasilan sesungguhnya bukan hanya ketika anak mampu melafalkan hafalannya di hadapan penguji, melainkan ketika ia tetap membuka Al-Qur’an dan menjaganya, bahkan setelah semua orang pulang.







