Sudah Hafal, “tapi” Benarkah Sudah Siap Munaqosyah?

Share it

Citizen Jurnalis: Muhammad Azka Taufiqi, S.Pd.

Anak yang sedang menghafal Al-Qur’an biasanya punya dua momen yang sama-sama menegangkan: ketika diminta menyetorkan hafalan dan ketika harus mengulangnya di hadapan penguji. Di rumah atau di kelas, ayat-ayat itu mungkin terasa akrab. Namun, saat diminta melafalkannya tanpa banyak bantuan, barulah terlihat bagian mana yang sudah kuat dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki.

Di sinilah pra-munaqosyah mengambil peran. Sebelum menghadapi ujian munaqosyah, murid perlu mendapat kesempatan untuk memeriksa kembali kesiapan hafalannya. Bukan untuk membuat mereka takut menghadapi ujian, melainkan agar mereka mengetahui apa yang sudah dikuasai dan apa yang masih harus dilatih.

Murid mengikuti ujian pra-munaqasyah di hadapan penguji sebagai bentuk evaluasi kesiapan dan pemantapan hafalan. Semoga diberikan kelancaran dan hasil terbaik.

Di SD Islam Hidayatullah Semarang, kegiatan pra-munaqosyah menjadi salah satu tahapan persiapan murid sebelum mengikuti ujian munaqosyah. Murid kelas 1 hingga kelas 6 maju untuk memperdengarkan hafalan di hadapan guru-guru BAQ. Juz yang dipersiapkan beragam, mulai dari Juz 1, Juz 2, Juz 3, hingga Juz 4. Setiap murid mendapat kesempatan untuk menunjukkan hafalan yang telah dipelajari sekaligus mengetahui bagian yang masih perlu diperkuat.

Sekilas, kegiatan ini mungkin tampak sederhana: murid maju, guru menyimak, lalu hafalan diperiksa. Namun, proses tersebut punya arti penting. Pra-munaqosyah membantu guru melihat kesiapan murid sebelum ujian, baik dari kelancaran hafalan maupun ketepatan bacaan. Jika ada ayat yang terlupa, tertukar, atau belum lancar, bagian itu dapat menjadi bahan latihan berikutnya.

Anggap saja pra-munaqosyah sebagai kesempatan untuk melakukan pengecekan sebelum hari ujian tiba. Daripada baru menyadari ada bagian yang belum kuat ketika sudah berada di hadapan penguji munaqosyah, lebih baik kekurangan itu ditemukan lebih awal. Dengan begitu, murid punya waktu untuk kembali membuka mushaf, mengulang ayat, dan memperbaiki hafalannya.

Tentu, maju di hadapan guru penguji bukan pengalaman yang sama bagi setiap anak. Ada murid yang bisa melafalkan hafalannya dengan tenang, ada pula yang perlu berhenti sejenak untuk mengingat sambungan ayat. Hal seperti ini wajar dalam proses belajar. Yang penting, murid tidak berhenti pada rasa gugup atau kecewa ketika melakukan kesalahan. Mereka belajar menerima masukan, mencoba kembali, dan memahami bahwa hafalan yang baik membutuhkan latihan yang berulang.

Di sisi lain, kegiatan ini juga mengajarkan bahwa target hafalan bukanlah garis akhir. Menghafal dan menjaga hafalan merupakan dua hal yang saling berkaitan, tetapi membutuhkan ikhtiar yang terus-menerus. Hafalan yang sudah disetorkan tetap perlu dimurajaah agar tidak mudah terlupa. Karena itu, persiapan menuju munaqosyah seharusnya tidak hanya dilakukan menjelang ujian, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan murid dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Pra-munaqosyah juga menjadi ruang bagi guru untuk memberikan arahan yang lebih terarah. Murid dapat mengetahui bagian mana yang perlu lebih sering diulang, sementara guru dapat mendampingi proses penguatan hafalan sebelum ujian. Dengan persiapan seperti ini, munaqosyah diharapkan tidak menjadi pengalaman yang datang tiba-tiba, melainkan tahapan yang telah dihadapi dengan latihan dan kesiapan.

Pada akhirnya, pra-munaqosyah bukan sekadar latihan sebelum ujian. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses mendidik murid agar lebih teliti, tekun, dan bertanggung jawab terhadap hafalan Al-Qur’an yang telah dipelajarinya. Banyaknya juz yang dihafal tentu patut diapresiasi, tetapi menjaga hafalan dan membiasakan diri membaca Al-Qur’an juga sama pentingnya. Jadi, ketika seorang murid selesai mengikuti pra-munaqosyah, yang dibawa pulang bukan hanya catatan tentang lancar atau belum lancarnya hafalan. Ada bekal untuk memperbaiki diri, ada keberanian untuk menghadapi ujian, dan ada pengingat bahwa ayat-ayat yang telah dihafal perlu terus dijaga. Sebab, tujuan akhirnya bukan sekadar berhasil melewati munaqosyah, melainkan tumbuh menjadi pribadi yang dekat dengan Al-Qur’an.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *