Parenting SD Islam Hidayatullah Semarang: Mendidik dengan Cinta, Menumbuhkan Kemandirian

Share it

SD Islam Hidayatullah Semarang menyelenggarakan kegiatan Parenting dengan tema “Mendidik dengan Cinta, Menumbuhkan Kemandirian” pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung di Musala Lantai 3 SD Islam Hidayatullah Semarang ini menjadi ruang bersama bagi sekolah dan orang tua untuk memperkuat pemahaman tentang pentingnya mendampingi anak dalam proses tumbuh dan berkembang secara utuh.

Kegiatan ini menghadirkan Ibu Septi Peni Wulandani, Founder Institut Ibu Profesional, School of Life Lebah Putih, dan Jarimatika Center Indonesia. Kehadiran narasumber memberikan kesempatan kepada para orang tua untuk mendapatkan wawasan, inspirasi, serta perspektif praktis mengenai pengasuhan dan pendidikan anak, khususnya dalam membangun kemandirian melalui pendampingan yang penuh cinta.

Ibu Septi Peni Wulandani berbagi inspirasi dan pengalaman kepada para orang tua dalam kegiatan Parenting SD Islam Hidayatullah Semarang.

Memahami Anak, Bukan Sekadar Mengubah Perilakunya

Mengasuh dan mendidik anak bukan sekadar mengajarkan apa yang benar dan salah. Setiap anak memiliki karakter, kebutuhan, cara berpikir, kemampuan, serta tahapan perkembangan yang berbeda. Oleh karena itu, orang tua perlu belajar memahami anak sebelum menentukan cara mendampinginya.

Dalam kegiatan parenting ini, orang tua diajak untuk melihat anak bukan hanya dari perilaku yang tampak, tetapi juga berusaha memahami hal-hal yang melatarbelakanginya. Ketika anak mudah marah, enggan melakukan sesuatu, sulit mengikuti arahan, atau terlihat kurang percaya diri, orang tua perlu belajar mencari tahu kebutuhan dan perasaan yang mendasarinya.

Dengan pemahaman tersebut, respons orang tua diharapkan tidak hanya berupa teguran atau larangan, tetapi juga pendampingan yang membantu anak mengenali dirinya, memahami perasaannya, dan belajar menyelesaikan persoalan.

Dengan pemahaman tersebut, respons orang tua diharapkan tidak hanya berupa teguran atau larangan, tetapi menjadi pendampingan yang membantu anak mengenali dirinya, memahami perasaannya, dan belajar menyelesaikan persoalan.

Salah satu hal penting dalam mendampingi anak adalah membangun komunikasi yang sehat. Anak membutuhkan orang tua yang bersedia mendengarkan, hadir, dan memberikan rasa aman ketika mereka menyampaikan cerita maupun perasaannya.

Mendengarkan anak bukan berarti selalu membenarkan semua keinginannya. Orang tua tetap perlu memberikan batasan dan aturan, tetapi dengan komunikasi yang jelas, tenang, dan penuh penghargaan terhadap anak. Dengan demikian, anak dapat belajar bahwa memiliki emosi adalah hal yang wajar, tetapi setiap emosi tetap perlu dikelola dan diekspresikan dengan cara yang tepat.

Mendidik dengan Cinta dan Tetap Memberikan Batasan

Mendidik dengan cinta bukan berarti membebaskan anak tanpa aturan. Sebaliknya, kasih sayang perlu berjalan beriringan dengan batasan, keteladanan, konsistensi, dan tanggung jawab.

Orang tua perlu membantu anak memahami alasan di balik sebuah aturan, memberikan konsekuensi yang mendidik ketika terjadi kesalahan, serta memberikan apresiasi terhadap proses dan usaha yang dilakukan anak. Pujian tidak hanya diberikan ketika anak mendapatkan hasil yang sempurna, tetapi juga ketika anak menunjukkan usaha, keberanian mencoba, tanggung jawab, dan kemauan untuk memperbaiki kesalahan.

Pendampingan yang baik juga berarti memberikan ruang kepada anak untuk mengalami proses belajar. Orang tua tidak harus selalu menyelesaikan masalah anak. Terkadang, memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba, gagal, kemudian mencoba kembali justru menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan diri dan daya juang.

Menumbuhkan Kemandirian Melalui Proses

Kemandirian tidak tumbuh secara instan, melainkan melalui proses yang membutuhkan kesempatan, kepercayaan, dan pendampingan yang tepat. Anak perlu diberi ruang untuk mencoba, mengambil keputusan sederhana, bertanggung jawab terhadap tugasnya, serta belajar dari kesalahan.

Anak yang sedang belajar mandiri, misalnya, terkadang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugasnya atau belum menghasilkan sesuatu yang sempurna. Dalam situasi seperti ini, orang tua perlu belajar menahan diri agar tidak selalu mengambil alih. Memberikan kesempatan kepada anak untuk berusaha sendiri merupakan salah satu bentuk kepercayaan terhadap kemampuan dan proses belajarnya.

Orang tua tetap berperan sebagai pendamping yang memberikan arahan ketika dibutuhkan, membantu anak memahami konsekuensi pilihannya, serta menguatkan ketika anak menghadapi kesulitan. Dengan pendampingan yang konsisten, anak diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, bertanggung jawab, dan berani menghadapi tantangan.

Membangun Sinergi antara Rumah dan Sekolah

Kegiatan parenting ini juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara orang tua dan sekolah. Pendidikan anak akan lebih optimal ketika nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah mendapatkan dukungan dan kesinambungan di lingkungan keluarga.

Sekolah dan orang tua memiliki peran yang saling melengkapi. Guru mendampingi anak dalam proses pembelajaran dan perkembangan di sekolah, sementara keluarga menjadi lingkungan pertama dan utama dalam pembentukan karakter. Oleh karena itu, komunikasi yang terbuka antara guru dan orang tua menjadi bagian penting dalam memahami kebutuhan setiap anak.

Melalui sinergi yang baik, nilai-nilai seperti akhlak mulia, kemandirian, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepercayaan diri dapat ditanamkan secara berkelanjutan, baik di rumah maupun di sekolah. Dengan begitu, anak memperoleh lingkungan yang mendukung proses tumbuh kembangnya secara lebih utuh.

Bertumbuh Bersama untuk Mendampingi Anak

Melalui kegiatan parenting bertema “Mendidik dengan Cinta, Menumbuhkan Kemandirian” ini, orang tua diharapkan memperoleh sudut pandang baru bahwa mendampingi anak bukan tentang menjadi orang tua yang sempurna, melainkan tentang terus belajar mengenali anak, memahami kebutuhannya, hadir ketika dibutuhkan, dan memberikan ruang agar anak bertumbuh menjadi dirinya sendiri.

Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah pertemuan, tetapi menjadi langkah awal untuk menghadirkan perubahan positif dalam pola pengasuhan dan pendampingan anak di rumah.

Pada akhirnya, anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang mengajarkan banyak hal, tetapi juga membutuhkan orang tua yang mau memahami, mendengarkan, membersamai, dan percaya terhadap proses tumbuh kembangnya. Ketika rumah dan sekolah berjalan bersama, anak memiliki lingkungan yang lebih kuat untuk tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, mandiri, bertanggung jawab, dan percaya diri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *