
Ustaz Ahmad Riyadh berdiskusi langsung dengan peserta saat menyampaikan materi Birrul Walidain dalam kegiatan MABIT SD Islam Hidayatullah Semarang. Suasana hangat dan interaktif mengajak siswa memahami makna berbakti kepada orang tua sejak dini.
Semarang — Suasana berbeda terasa di lingkungan SD Islam Hidayatullah Semarang pada Jumat hingga Sabtu, 23—24 Januari 2026. Ratusan siswa kelas 3 dan 4 tampak antusias mengikuti kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) yang mengusung tema Birrul Walidain—sebuah tema sederhana namun sarat makna tentang bakti kepada orang tua.
Kegiatan ini bukan sekadar bermalam di sekolah. Sejak sore hari, para peserta telah mengikuti rangkaian aktivitas pembinaan ruhiyah dan karakter yang dirancang menyentuh hati dan membangun kesadaran spiritual anak sejak dini. Mulai dari salat berjamaah lima waktu, tadarus Al-Qur’an, Focus Group Discussion (FGD) tentang birrul walidain, qiyamul lail, hingga kegiatan outbond yang penuh keceriaan.
Salah satu momen paling berkesan adalah penyampaian materi oleh Ustaz Ahmad Riyadh, pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (DOAQU). Dengan bahasa sederhana dan penuh kehangatan, beliau mengajak anak-anak merenungi peran orang tua dalam kehidupan mereka.
“Anak-anak, ayah dan ibu itu tidak pernah libur mencintai kalian. Ketika kalian tidur, mereka masih memikirkan masa depan kalian. Kalau ingin Allah sayang, maka sayangilah orang tua kalian. Jangan menunggu besar untuk berbakti, mulailah hari ini,” tutur Ustaz Ahmad Riyadh, yang disambut keheningan penuh haru dari para peserta.
Kegiatan FGD menjadi ruang bagi siswa untuk berbagi cerita tentang orang tua mereka, menyampaikan rasa terima kasih, sekaligus belajar menghargai pengorbanan ayah dan ibu. Puncak spiritualitas terasa saat qiyamul lail, ketika anak-anak dibimbing untuk berdoa dan memohon kebaikan bagi kedua orang tua mereka.
Koordinator kegiatan, Ustaz Feri Atmojo, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran dan antusiasme peserta selama kegiatan berlangsung.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur kegiatan MABIT ini berjalan dengan lancar dan penuh keberkahan. Anak-anak mengikuti setiap rangkaian dengan tertib dan penuh semangat. Kami berharap nilai birrul walidain tidak berhenti di kegiatan ini saja, tetapi benar-benar tertanam dan tercermin dalam sikap mereka sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah,” ujarnya.
Sebagai bentuk apresiasi, panitia juga memberikan penghargaan kepada beberapa peserta inspiratif. Salah satunya diraih oleh Ananda Dama Gibran Asfa Yudhianto, siswa kelas 4-C. Dengan wajah ceria, Gibran membagikan kesan mendalamnya mengikuti MABIT.
“Saya senang sekali ikut MABIT. Saya jadi tahu kalau harus lebih sayang sama ayah dan ibu, tidak membantah, dan rajin membantu di rumah. Waktu qiyamul lail saya berdoa supaya orang tua saya sehat selalu. Terima kasih ustaz dan guru-guru,” ungkapnya polos namun penuh makna.
Kegiatan MABIT ditutup dengan outbond yang menumbuhkan kerja sama, keberanian, dan kebersamaan antarsiswa. Tawa dan canda mengiringi akhir kegiatan, menandai bahwa pembinaan iman dan karakter dapat berjalan seiring dengan kegembiraan anak-anak.
Melalui MABIT bertema Birrul Walidain ini, SD Islam Hidayatullah Semarang menegaskan komitmennya untuk tidak hanya mencetak siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia, beriman kuat, dan berbakti kepada orang tua—nilai yang diharapkan akan mereka bawa sepanjang kehidupan.













