Edukasi Bimbingan Karier Bersama Ibu Nurina, M.Psi., Psikolog, CHA, CGA

Share it

Semarang, sdislamhidayatullah.sch.id – Edukasi Bimbingan Karir #1

Dengan berakhirnya Evaliasi Akhir Semester pada Jumat lalu,  SD Islam Hidayatullah menyelenggarakan kegiatan classmeeting yang dimulai Senin—Kamis (13–16 Desember 2021). Pada 3 hari awal, siswa akan mengikuti rangkaian kegiatan classmeeting tentang edukasi bimbingan karier bersama narasumber yang berkompeten di bidangnya. Di hari keempat, para siswa akan disuguhi opera anak dalam rangka memperingati Hari Ibu.

Senin, 13 Desember 2021, siswa SD Islam Hidayatullah mengikuti Edukasi Bimbingan Karier #1 dengan narasumber Ibu Nurina, M.Psi, Psikolog, CHA, CGA, yang akrab disapa Bu Ririn. Beliau merupakan seorang psikolog klinis yang selama ini membantu sekolah dalam kaitannya dengan pendampingan psikologis siswa, orang tua maupun guru. Kegiatan yang dilaksanakan secara virtual ini dimulai pukul 07.30 (bagi siswa kelas 1—3) dan 09.30 (bagi siswa kelas 4—6) dengan durasi masing-masing sesi 90 menit.

Diawali dengan bacaan QS Al Fatiha yang dipimpin oleh pembawa acara yakni Ibu Layla dan Miss Fifi, kegiatan dilanjutkan dengan tahfiz yang dilantunkan oleh ananda Latifa (2D) dan ananda Fatimah Zahra (6D). Acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama, kemudian disampaikan sambutan Kepala Sekolah SD Islam Hidayatullah; Ibu Robiah Peni Raharjanti. Ibu Peni meng-highlight bahwa cita-cita dapat dirancang sejak dini agar anak-anak lebih terarah dalam belajar. Beliau juga mengajak para siswa agar memiliki semangat juang yang tinggi dan belajar dengan giat dalam meraih cita-cita.

Para siswa semakin antusias saat pembawa acara menyampaikan bahwa akan ada doorprize bagi partisipan yang aktif, dengan kategori partisipan yang hadir paling awal, selalu menyalakan kamera, dan partisipan yang bertanya kepada narasumber.

Simak rekaman live streaming di Channel Youtube SD Islam Hidayatullah Semarang 👇:

Tibalah saatnya acara inti. Tak kalah semangat dari anak-anak, Ibu Ririn mengapresiasi para siswa atas kepatuhan, tanggung jawab dan kedisiplinan mereka dalam mengikuti kegiatan ini. Ketiganya merupakan ciri-ciri generasi yang sukses, insya Allah. Cita-cita berawal dari mimpi, minat dan hobi. Bermimpilah yang tinggi karena Allah akan mengabulkannya jika kita yakin, kuat dan optimis. Cita-cita menjadi salah satu penyemangat dalam hidup manusia, karena dengan cita-cita, kita memiliki arah untuk dituju. Ibu Ririn mengasosiasikan diri siswa dengan mobil. Agar dapat berjalan, mobil harus diisi bahan bakar. Begitupun manusia, agar dapat bermanfaat bagi lingkungan, manusia harus memiliki cita-cita agar semakin bersemangat dalam kegiatan sehari-hari.

Ibu Ririn melanjutkan bahwa semua cita-cita itu baik selama tujuannya baik dan akan saling melengkapi. Suatu saat polisi akan membutuhkan dokter ketika sakit, begitupun sebaliknya. Tidak semua pekerjaan cocok untuk kita. Kita harus memilih profesi sesuai minat dan keahlian yang kita miliki.

Di akhir kegiatan, banyak siswa yang raise hand untuk mengajukan pertanyaan. Pertanyaan pertama dilontarkan oleh anada Alif dari kelas 3B: “Mengapa kita tidak boleh putus asa dalam meraih cita-cita?” Merespon pertanyaan tersebut, Bu Ririn menyampaikan bahwa jika kita putus asa, maka kita butuh waktu yang lebih lama untuk meraih cita-cita atau bahkan cita-cita tersebut tidak tercapai. Saat ditanya balik, ananda Alif bertutur bahwa ia ingin berkecimpung di bidang hubungan internasional. Bu Ririn mengingatkan agar ananda senantiasa menjaga agama dan mencintai budaya Indonesia agar menjadi wakil Indonesia yang membanggakan nantinya.

Pertanyaan menarik lainnya datang dari ananda Nene (2D) dan direspon langsung oleh Ibu Ririn bahwa jika ingin meraih cita-cita, kita harus berusaha, berdoa dan tak lupa selalu berbuat baik kepada kedua orang tua.

Pada sesi berikutnya ananda Salma (Kelas 4A) menanyakan tentang cara agar kita dapat mengubah kebiasaan buruk menjadi yang lebih baik untuk cita-cita kita. Dari pertanyaan tersebut, narasumber menjelaskan langkah-langkah yang perlu dilakukan, yakni menyusun daftar tentang hal buruk yang kita punya, lalu tentukan urutan dari yang paling mengganggu, kemudian identifikasi hal baik dari keburukan tersebut serta mencari dukungan dari orang terdekat agar keburukan kita terminimalisir.

Zidan (6A), berkesempatan menjadi penanya berikutnya.  Dengan percaya diri, ia menanyakan apakah orang dengan akhlak dan prestasi buruk di masa kecil masih bisa berhasil dalam meraih cita-citanya di masa depan. Ibu Ririn berpendapat bahwa orang tersebut masih dapat meraih cita-citanya, karena manusia dikaruniai akal, hati dan nafsu oleh Allah Swt. Asalkan memiliki kemauan yang kuat dan rida dari Allah, tidak ada yang tidak mungkin. Beliau mencontohkan bahwa ada seorang nenek berusia 60 tahun yang ingin belajar Al Qur’an dan Allah mengabulkannya bahkan beliau dapat menjadi penghafal Al Qur’an.

Sebenarnya masih banyak siswa yang hendak mengajukan pertanyaan, namun karena terbatasnya waktu, pertanyaan tersebut dapat disampaikan kepada wali kelas untuk kemudian disampaikan kepada Ibu Ririn di luar acara.

Pada sesi akhir, Ibu Ririn kembali memberikan motivasi bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Anak-anak harus selalu optimis, mencoba hal-hal baru, menekuni hobi,  sering berdiskusi dengan orang tua dan yang terpenting selalu hormat kepada orang tua dan guru, karena doa orang tua akan dapat menembus ‘ars Allah Swt.

Kegiatan ditutup dengan penyampaian sertifikat kepada narasumber, pengumuman peraih doorprize dan pembacaan doa kafaratul majlis.

Leave a Comment

Your email address will not be published.