Lautan Pramuka di SD Islam Hidayatullah Semarang

Share it

Semarang, sdislamhidayatullah.sch.id – Tiba-tiba, hari ini, lapangan basket SD Islam Hidayatullah berubah menjadi lautan pramuka. Ada apakah gerangan? Hari ini ternyata hari pertama ekstra wajib pramuka dilaksanakan. Seluruh siswa kelas 3–6 serentak turun untuk mengikuti koordinasi awal. Di lapangan sudah menunggu pembina pramuka dari luar, bapak ibu guru wali kelas, dan pendamping kelas 3-6.

Pada awal kegiatan, seluruh anggota pramuka mendapat pengetahuan dasar tentang pramuka. Dikenalkan kembali tepuk pramuka, yel-yel pramuka khas SD Islam Hidayatullah, baris berbaris, dan permainan tepuk lainnya.

Tampak kegembiraan terpancar dari seluruh siswa yang hadir di lapangan saat itu, dari siswa-siswi dan para guru. Semua bersemangat untuk menyambut era baru kepanduan di SD Islam Hidayatullah.

Selanjutnya, calon penerus Robert Baden Powell ini dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok pramuka siaga, beranggotakan kelas 3 dan 4 yang memiliki kisaran usia 7–10 tahun, sedangkan kelompok kedua adalah siswa-siswi kelas 5 dan 6 yang masuk tingkatan pramuka penggalang. Untuk pramuka siaga, kegiatan tetap dilaksanakan di lapangan basket, sedangkan pramuka penggalang diminta untuk berpindah tempat ke lapangan futsal.

Dengan arahan dan bimbingan dari Yanda dan Bunda, para siaga diminta untuk membentuk barung yang beranggotakan 6–7 siswa. Masing-masing barung diminta untuk menentukan nama dan pemimpin barung. Mereka pun saling berdiskusi untuk menentukan barung kelompok dan pemimpin dari barung masing-masing. Ada yang memilih barung merah, hijau, kuning, dan lain sebagainya. Tampak antusias sekali saat siaga-siaga ini mendiskusikan pilihannya.

Di sisi lain, di bagian timur lapangan futsal, para penggalang juga tampak tidak kalah semangatnya dalam mengikuti arahan dan bimbingan dari kakak pembina. Saat kakak pembina meminta para penggalang untuk membentuk regu dengan serta merta, mereka langsung melaksanakannya.

Terdengar sayup-sayup suara, “Kita regu mawar saja? Bagaimana kalau matahari saja?”

Lain dari itu, masih banyak lagi suara-suara bersahutan. Walaupun hiruk-pikuk, keriuhan itu terpusat pada penentuan nama regu, pemilihan pinru (pemimpin regu), wapinru, sekretaris, dan bendahara.

Setelah semua regu dan barung terbentuk, kegiatan diakhiri dengan penguatan kembali dari Yanda, Bunda, dan kakak pembina tentang pemakaian seragam dan atribut yang harus digunakan oleh masing-masing peserta saat pertemuan pekan depan.

Semangat para siaga!
Semangat para penggalang!
Jaya selalu Pramuka SD Islam Hidayatullah!
HI-DA JA-YA!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *